Selasa, 30 Juli 2013

My Story About Jambore



 



 Drrtt.. drrtt.. drrtt..
Jigeum naega haneun yaegi
Neol apeuge halji molla
Ama nal jukdorok miwohage deol kkeoya..
Suara irama korea mengusik gendang telinga, mata terpejam sembari tangan kananku merayap- rayap mencari ponsel ber-alarm tersebut, akhirnya aku temukan ponsel ini di bawah bantal lalu aku maatikan secepat mungkin, perlahan ku buka mata dan melihat ke arah jam dinding bulat bergambarkan mickey mouse dengan keadaan jarumnya menusuk angka 4, tubuhku masih menggigil tertutupi selimut tebal, kedua tanganku melenting seakan enggan meninggalkan kasur berwarna biru ini, kupaksakan tubuh ini agar tetap terbangun, aku tidurkan tedy bear berwarna pink besarku dan kuselimuti dia seakan aku enggan mengusik tidurnya, segera aku giring jasad pemalas ini ke kamar mandi untuk wudlu dan mandi pastinya.
Drrtt.. drrtt.. drrtt.. (1 pesan muncul di layar ponselku)
From    : Neng Pupung
To        : Neng Nida
Neng atos siap ?
(Ku balas)
Sudah Neng, sebentar ya, aku pakai kaos kaki dulu.
Drrtt.. drrtt.. drrtt.. (1 pesan kembali muncul)
From    : Neng Pupung
To        : Neng Nida
Oh iya, di tunggu ya di jalan.
            Setelah membaca pesan dari Neng Pupung cepat-cepat aku bergegas berangkat, satu tas besar berwarna coklat menggelayut di pundak lebarku dengan jaket berwarna merah, kerudung biru dan sepasang baju biru dogker yang tak senada menempel di tubuhku.
“putri sulung mu ini berangkat dulu ya mah” sembari mencium tangan sang mamah
“hati-hati ya Neng, jangan lupa hubungi Mamah disana bla bla bla..”
Berbagai nasehat keluar dari mulut Mamah dan aku hanya bisa menjawab oh, ya, hmm, baiklah..
“dadah teteh selamat bertemu dengan keluargamu kembali di hutan sana” sembari melambaikan tangan-tangan mungil mereka.
Ah dasar ke dua bocah tengik ini hanya bisa membuat onar saja, tapi hal ini yang selalu membuat suasana rumah terasa hangat, aku rasa kau akan sangat merindukan mereka Nid, kulambaikan tanganku kembali dan bergegas menuju jalan raya.
            Mataku mulai mencari sesosok wanita cantik di sebrang jalan yang tak kunjung menunjukan batang hidungnya, “Neng Nida..” suara keras namun terasa lembut yang tak aneh lagi memanggil namaku, dan benar ternyata itu memang benar Neng Pupung, Neng Pupung adalah tetangga sekaligus temanku semenjak kami belum masuk sekolah dasar sampai sekarang, aku mengikuti Jambore ini karena ajakan dari Neng Pupung, mungkin jika Neng Pupung tidak mengajakku aku tidak akan pernah tau apa itu RIBUT (ririungan barudak garut).
            1 mobil kuning keluar dari kabut hitam, bagaikan ambulan Susana yang hendak mencari mangsa, ya itu mobil yang akan kami naiki, setelah aku dan Neng Pupung masuk ternyata dalam mobil tersebut sudah ada beberapa teman satu sekolah Neng Pupung, wuaahh senangnya kami berangkat subuh beramai-ramai, mobil kuning yang kami tumpangi  berhenti di depan pegadaian Samarang, keningku mengerut seketika “kenapa turun disini?” gumamku dalam hati, ternyata Neng Pupung dan kawan-kawan masih menunggu 2 orang teman lagi, sungguh indah kesiangan seperti ini saja masih memikirkan solidaritas. Waktu menunjukan pukul 06.15 WIB kedua teman yang mereka maksud akhirnya datang juga, segera kami memasuki mobil hijau putih yang sedari tadi setia menunggu kami, sebenarnya kami diperkirakan akan kesiangan jika memang tim Jambore RIBUT berangkat pkl. 06.30 WIB, sedikit saja kami terlambat maka dadah.. tidak ada toleransi bagi kami, terpaksa kami harus pulang kembali kerumah masing-masing.
            Sedari tadi ponselku terus bergetar , ternyata teman satu sekolahku Ridho Putri Utari yang menelfon, lalu aku angkat, tiba-tiba suara ciri khas nya yang seperti menangis agak marah menggerutu di telinga kananku.
“nida cepetan aku sendiri disini! kamu masih dimana ih? Nida cepetan” gerutunya
“aku lagi jalan kaki mau kesana do, tungguin saja” jawabku, lalu aku tekan tombol merah.
Kembali nomor As cart tersebut memanggil nomor 3 cart milikku, aku angkat kembali
“nida masih dimana?! Cepetan aku malu sendirian!, halo nida, halo halo cepetan!” kesalnya,
“aku di didepan RUTAN sebentar lagi nyampe do” kumatikan.
Terus tanpa henti Ido menghubungi nomerku namun aku reject, aku lari sekencang mungkin tak sadar aku meninggalkan neng pupung dan kawan-kawan. Akhirnya aku temui Ido, seperti biasa wajahnya bak orang yang mau menangis, dengan kesal Ido memarahiku karena ketelatanku,
“nida gimana ini aku gak pake kaos kaki ?” ungkapnya
“pake dulu atuh kaos kakinya bawakan? kita pakai celana gak apa-apa kali yah? yaudah lah dari pada pusing mending masuk gerbang dulu yuk, kalau disini terus malu”
            Satu masalah kembali muncul pasalnya teman satu sekolah kami Nazma Rahayu dan Teh Hikmah belum kunjung datang, pikiran kami begitu panik peserta Jambore lainnya telah berbaris  dan bergegas berangkat, aku kira mereka tidak akan datang dan ketika badanku membalikan arah, ku tengok barisan paling belakang dan ternyata mereka sudah ikut berbaris Alhamdulillah syukurlah. Tak lama saat berbaris satu insiden kecil terjadi, aku lihat ulat bulu kecil yang jatuh dari derai pohon menggelayut di sisi wajah laki-laki yang bersebelahan denganku, aku sedikit agak geli dan sedikit teriak “Awass.. itu ada ulat” sembari menunjukan telunjukku di depan ulat bulu, laki-laki itu nampak tak terkejut malah yang ada ulat itu di pegang dan disingkirkan dari wajahnya dengan tangan kosong, “apa tidak gatal?” gumamku dalam hati.
            Setelah berbaris kami digiring menuju angkot yang telah dikelompokan sebelumnya, kasihan ada 2 orang laki-laki yang terpisah dengan anggota sekolahnya dan harus satu angkot dengan kelompok sekolah kami yang ber-notabene santriwati Persis, jika di satukan dengan sekolahnya mungkin mereka akan merasa lebih bebas. Sopir angkot kelompok 2 menginjakan pedal dengan  kencang kami melesat tanpa ragu meninggalkan alun-alun tempat kami berkumpul tadi.
Sesampainya di kamojang nampaknya angkot yang kami tumpangi salah arah, tidak ada angkot lagi yang melewati jalan ini selain angkot kelompok kami, aku kira kita akan diculik layaknya seperti yang terjadi pada sinetron-sinetron, haha hayalanku terlalu tinggi, angkot hijau putih ini kembali memutarkan arahnya dan menuju jalan semula, ternyata memang benar kami salah arah di pertigaan harusnya Mang supir menuju arah kanan bukan arah kiri.
            Sesampainya di kawah kamojang semilir angin sejuk menyapa kami, suasananya yang amat begitu asri dan alami begitu indah di pandang, pepohonan nan hijau yang tinggi tak lupa uap-uap yang maha dahsyat keluar dari lubang-lubang tanah bak hutan yang sedang kebakaran membuatku terus memuji namanya, subhanallah sungguh sempurna Allah menciptakan bumi dan seisinya maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?. Kami di iring kembali menuju tenda setelah di absen dan berkumpul tiba-tiba kami disuruh mengambil makanan di tenda sebrang, ohh.. tim Jambore RIBUT begitu mengerti akan isi perut kami, kami makan beramai-ramai di dalam tenda, ku rogokan sesuap nasi di bibir mungilku dengan agak terburu-buru layaknya orang kelaparan yang tidak makan selama seminggu haha, setelahnya kami sholat dzuhur dan sholat ashar di musola bawah, sebelumnya karena kami cinta gratisan kami wudlu di tempat pemandian warga sekitar yang tak begitu buruk , banguananya terbuat dari kayu tua dan tidak ada lampu di dalamnya, karena masih siang tempat pemandian ini masih terlihat tidak menyeramkan airnya hangat tidak berbeda jauh dengan tempat pemandian di sebelahnya. Setelah sholat kami ikuti pelatihan-pelatihan untuk sambutan bapak bupati, lalu kami ikuti training  dari Bpk. Drs. H Helmi, Bpk Irhasan, Mbak Win / Mbak Winti Crishtianingsih, the Agnes dan Bpk Saeful Anwar, banyak ilmu yang ku garap dari hasil tarining ini dan pastinya banyak permainan positif yang membangun kekompakan kami.
            Tidak terasa siang telah berganti menjadi malam walaupun tidak ada suara adzan berkumandang kami bergegas meuju tempat pemandian warga yang kami kunjungi tadi, kami berangkat beramai-ramai nampaknya pemandian itu sedang di isi karena kami lihat pintu tertutup dan ada handuk menggantung di bibir pintu, sedikit agak heran “kenapa harus mandi pada waktu magrib ? apa tidak takut ?” bergumam dalam hati, Teh Rahmi panitia koordinator kami mengetuk pintu agak keras dan berkata “hey ada orang di dalam?” berulang kali teh Rahmi mengucap kaliamat itu sambil berdecak kesal, namun tetap saja tidak ada respon apa-apa, malah yang ada suara guyuran air semakin membesar, air-air guyuran keluar darai bibir pintu sehingga membasahi teras luar, handuk yang tergantung tadi tiba-tiba mengghilang, horor rasanya merasa hembusan angin malam tiba-tiba menerpa, bulu kuduk meremang seketika, raut wajah kami berubah, kami mundur perlahan agak sedikit jauh dari pintu kamar mandi perlahan daaan tiba-tiba krreekk.. suara pintu terkuak, mata membulat kami mulai menelan ludah  dan kami mulai menarik nafas panjang-panjang tiba-tiba jeng jeng daun pintu itu menampilkan sesosok nenek berselimutkan handuk, membuat nafas kami terengah berhembus kembali lega, “huh mengagetkan saja kami kira hantu” gerutu kami.
            Ratusan sepasang mata menatap langit hitam, sedikit bintang bertaburan di langit di temani cahaya bulan purnama, sungguh pemandangan yang menakjubkan malam itu, begitupun dengan aku yang tak melewatkan kesempatan melihat titik-titik cahaya yang bertebaran di langit malam Kamojang. Kini aku telah menghempaskan tubuhku di atas tanah berkerikil tanpa alas sama sekali, mata bulatku menatap beberapa cahaya yang membias di langit, sudut bibir melekukan senyuman saat terpaan angin malam membelai wajahku, sepertinya suasana malam begitu begitu dingin menusuk tulang sampai aku tak sadar orang-orang yang sedang bernyanyi ria mengiringi malam sunyi perlahan perlahan menghangatkan ku.
“kenapa tidak ikut bernyayi? Ayo agak kedepan kita nikmati malam dingin ini dengan kehangatan” seseorang merangkulku berjalan mengarah ke arah kicauan orang-orang yang sedang bernyanyi di depan api unggun, aku mengangguk kecil sembari merangkul kembali pundak lebarnya.
“rasanya aku ingin melihat bintang dan bulan saja, sayang jika di lewatkan begitu saja” ucapku
“tapi kau akan lebih menyesal jika kau melewatkan malam ini tanpa keramayan mereka” seru sahabatku Nazma Rahayu.
Senyumku mengembang tatkala pikiran dan telingaku beradu menangkap untaian kalimat dari mulut sahabatku itu, kupikir memang benar, ku nikmati semuanya kami bernyanyi dan tertawa ria serasa tak igin malam ini berlalu begitu saja, tiba-tiba kristal bening mengalir di kedua bola mataku, aku rindu keluarga di rumah, aku rindu nasihat mamah, aku rindu kejahilan-kejahilan ke 2 adikku, aku rindu diamnya sang ayah, aku rindu rumah, aku rindu tedy bearku, aku rindu kasurku, aku rindu orang yang selalu mengirimku sms, sayang disini tidak ada jaringan karenanya aku tidak bisa menepati janjiku untuk menghubungi mamah di rumah.
            Malam berubah menjadi siang ku packing barang-barangku dan bergegas pulang, sebelum kami pulang, kami mengelilingi kawah kamojang terlebih dahulu sembari eksis di depan lensa kamera, setelahnya kami memasuki angkot semula, dan tibalah di penghujung cerita 4 ban bergelinding meninggalkan tempat bermakna ini dengan pesat good bye.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar