Jigeum naega haneun yaegi
Neol apeuge halji molla
Ama nal jukdorok miwohage deol kkeoya..
Suara irama
korea mengusik gendang telinga, mata terpejam sembari tangan kananku merayap-
rayap mencari ponsel ber-alarm tersebut, akhirnya aku temukan ponsel ini di bawah bantal lalu
aku maatikan secepat mungkin, perlahan ku buka mata dan melihat ke arah jam dinding bulat
bergambarkan mickey mouse dengan keadaan jarumnya menusuk angka 4, tubuhku
masih menggigil tertutupi selimut tebal, kedua tanganku melenting seakan enggan meninggalkan
kasur berwarna biru ini, kupaksakan tubuh ini agar tetap terbangun, aku tidurkan
tedy bear berwarna pink besarku dan kuselimuti dia seakan aku enggan mengusik
tidurnya, segera aku giring jasad pemalas ini ke kamar mandi untuk wudlu dan
mandi pastinya.
Drrtt.. drrtt.. drrtt.. (1 pesan muncul
di layar ponselku)
From :
Neng Pupung
To :
Neng Nida
Neng atos siap ?
(Ku balas)
Sudah Neng, sebentar ya, aku pakai kaos kaki dulu.
Drrtt.. drrtt.. drrtt.. (1 pesan kembali
muncul)
From :
Neng Pupung
To :
Neng Nida
Oh iya, di tunggu ya di jalan.
Setelah
membaca pesan dari Neng Pupung cepat-cepat aku bergegas berangkat, satu tas
besar berwarna coklat menggelayut di pundak lebarku dengan jaket berwarna merah,
kerudung biru dan sepasang baju biru dogker yang tak senada menempel di
tubuhku.
“putri sulung mu ini berangkat dulu ya mah”
sembari mencium tangan sang mamah
“hati-hati ya Neng, jangan lupa hubungi Mamah disana bla bla bla..”
Berbagai nasehat keluar dari mulut Mamah
dan aku hanya bisa menjawab oh, ya, hmm, baiklah..
“dadah teteh selamat bertemu dengan
keluargamu kembali di hutan sana” sembari melambaikan tangan-tangan mungil
mereka.
Ah dasar ke dua bocah tengik ini hanya
bisa membuat onar saja, tapi hal ini yang selalu membuat suasana rumah terasa
hangat, aku rasa kau akan sangat merindukan mereka Nid, kulambaikan tanganku
kembali dan bergegas menuju jalan raya.
Mataku
mulai mencari sesosok wanita cantik di sebrang jalan yang tak kunjung menunjukan
batang hidungnya, “Neng Nida..” suara keras namun terasa lembut yang tak aneh
lagi memanggil namaku, dan benar ternyata itu memang benar Neng Pupung, Neng Pupung adalah tetangga sekaligus temanku semenjak kami belum masuk sekolah
dasar sampai sekarang, aku mengikuti Jambore ini karena ajakan dari Neng Pupung,
mungkin jika Neng Pupung tidak mengajakku aku tidak akan pernah tau apa itu
RIBUT (ririungan barudak garut).
1
mobil kuning keluar dari kabut hitam, bagaikan ambulan Susana yang hendak mencari mangsa, ya itu mobil yang akan kami naiki, setelah
aku dan Neng Pupung masuk ternyata dalam mobil tersebut sudah ada beberapa
teman satu sekolah Neng Pupung, wuaahh senangnya kami berangkat subuh
beramai-ramai, mobil kuning yang kami tumpangi
berhenti di depan pegadaian Samarang, keningku mengerut seketika “kenapa
turun disini?” gumamku dalam hati, ternyata Neng Pupung dan kawan-kawan masih
menunggu 2 orang teman lagi, sungguh indah kesiangan seperti ini saja masih
memikirkan solidaritas. Waktu menunjukan pukul 06.15 WIB kedua teman yang
mereka maksud akhirnya datang juga, segera kami memasuki mobil hijau putih yang
sedari tadi setia menunggu kami, sebenarnya kami diperkirakan akan
kesiangan jika memang tim Jambore RIBUT berangkat pkl. 06.30 WIB, sedikit saja
kami terlambat maka dadah.. tidak ada toleransi bagi kami, terpaksa kami harus
pulang kembali kerumah masing-masing.
Sedari
tadi ponselku terus bergetar , ternyata teman satu sekolahku Ridho Putri Utari
yang menelfon, lalu aku angkat, tiba-tiba suara ciri khas nya yang seperti menangis
agak marah menggerutu di telinga kananku.
“nida cepetan aku sendiri disini! kamu
masih dimana ih? Nida cepetan” gerutunya
“aku lagi jalan kaki mau kesana do,
tungguin saja” jawabku, lalu aku tekan tombol merah.
Kembali nomor As cart tersebut memanggil
nomor 3 cart milikku, aku angkat kembali
“nida masih dimana?! Cepetan aku malu
sendirian!, halo nida, halo halo cepetan!” kesalnya,
“aku di didepan RUTAN sebentar lagi
nyampe do” kumatikan.
Terus tanpa henti Ido menghubungi
nomerku namun aku reject, aku lari sekencang mungkin tak sadar aku meninggalkan
neng pupung dan kawan-kawan. Akhirnya aku temui Ido, seperti biasa wajahnya bak
orang yang mau menangis, dengan kesal Ido memarahiku karena ketelatanku,
“nida gimana ini aku gak pake kaos kaki
?” ungkapnya
“pake dulu atuh kaos kakinya bawakan? kita pakai celana gak apa-apa kali yah? yaudah lah dari pada pusing mending masuk gerbang dulu yuk, kalau disini terus malu”
Satu
masalah kembali muncul pasalnya teman satu sekolah kami Nazma Rahayu dan Teh
Hikmah belum kunjung datang, pikiran kami begitu panik peserta Jambore lainnya
telah berbaris dan bergegas berangkat, aku kira mereka tidak akan datang dan ketika
badanku membalikan arah, ku tengok barisan paling belakang dan ternyata mereka sudah ikut
berbaris Alhamdulillah syukurlah. Tak lama saat berbaris satu insiden kecil terjadi, aku
lihat ulat bulu kecil yang jatuh dari derai pohon menggelayut di sisi wajah
laki-laki yang bersebelahan denganku, aku sedikit agak geli dan sedikit teriak “Awass.. itu ada
ulat” sembari menunjukan telunjukku di depan ulat bulu, laki-laki itu nampak tak
terkejut malah yang ada ulat itu di pegang dan disingkirkan dari wajahnya
dengan tangan kosong, “apa tidak gatal?” gumamku dalam hati.
Setelah
berbaris kami digiring menuju angkot yang telah dikelompokan sebelumnya,
kasihan ada 2 orang laki-laki yang terpisah dengan anggota sekolahnya dan harus
satu angkot dengan kelompok sekolah kami yang ber-notabene santriwati Persis,
jika di satukan dengan sekolahnya mungkin mereka akan merasa lebih bebas. Sopir angkot
kelompok 2 menginjakan pedal dengan kencang kami melesat tanpa ragu meninggalkan
alun-alun tempat kami berkumpul tadi.
Sesampainya di kamojang nampaknya angkot
yang kami tumpangi salah arah, tidak ada angkot lagi yang melewati jalan ini selain
angkot kelompok kami, aku kira kita akan diculik layaknya seperti yang terjadi pada
sinetron-sinetron, haha hayalanku terlalu tinggi, angkot hijau putih ini kembali
memutarkan arahnya dan menuju jalan semula, ternyata memang benar kami salah
arah di pertigaan harusnya Mang supir menuju arah kanan bukan arah kiri.
Sesampainya
di kawah kamojang semilir angin sejuk menyapa kami, suasananya yang amat begitu
asri dan alami begitu indah di pandang, pepohonan nan hijau yang tinggi tak
lupa uap-uap yang maha dahsyat keluar dari lubang-lubang tanah bak hutan yang
sedang kebakaran membuatku terus memuji namanya, subhanallah sungguh sempurna Allah
menciptakan bumi dan seisinya maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?. Kami di iring kembali menuju tenda setelah di
absen dan berkumpul tiba-tiba kami disuruh mengambil makanan di tenda sebrang,
ohh.. tim Jambore RIBUT begitu mengerti akan isi perut kami, kami makan
beramai-ramai di dalam tenda, ku rogokan sesuap nasi di bibir mungilku dengan
agak terburu-buru layaknya orang kelaparan yang tidak makan selama seminggu
haha, setelahnya kami sholat dzuhur dan sholat ashar di musola bawah,
sebelumnya karena kami cinta gratisan kami wudlu di tempat pemandian warga
sekitar yang tak begitu buruk , banguananya terbuat dari kayu tua dan tidak ada
lampu di dalamnya, karena masih siang tempat pemandian ini masih terlihat tidak
menyeramkan airnya hangat tidak berbeda jauh dengan tempat pemandian di
sebelahnya. Setelah sholat kami ikuti pelatihan-pelatihan untuk sambutan bapak
bupati, lalu kami ikuti training dari
Bpk. Drs. H Helmi, Bpk Irhasan, Mbak Win / Mbak Winti Crishtianingsih, the
Agnes dan Bpk Saeful Anwar, banyak ilmu yang ku garap dari hasil tarining ini
dan pastinya banyak permainan positif yang membangun kekompakan kami.
Tidak
terasa siang telah berganti menjadi malam walaupun tidak ada suara adzan
berkumandang kami bergegas meuju tempat pemandian warga yang kami kunjungi tadi, kami berangkat beramai-ramai nampaknya pemandian itu sedang di isi karena
kami lihat pintu tertutup dan ada handuk menggantung di bibir pintu, sedikit
agak heran “kenapa harus mandi pada waktu magrib ? apa tidak takut ?” bergumam
dalam hati, Teh Rahmi panitia koordinator kami mengetuk pintu agak keras dan
berkata “hey ada orang di dalam?” berulang kali teh Rahmi mengucap kaliamat itu
sambil berdecak kesal, namun tetap saja tidak ada respon apa-apa, malah
yang ada suara guyuran air semakin membesar, air-air guyuran keluar darai bibir
pintu sehingga membasahi teras luar, handuk yang tergantung tadi tiba-tiba
mengghilang, horor rasanya merasa hembusan angin malam tiba-tiba menerpa, bulu kuduk meremang seketika,
raut wajah kami berubah, kami mundur perlahan agak sedikit jauh dari pintu
kamar mandi perlahan daaan tiba-tiba krreekk.. suara pintu terkuak, mata membulat kami
mulai menelan ludah dan kami mulai
menarik nafas panjang-panjang tiba-tiba jeng jeng daun pintu itu menampilkan sesosok nenek
berselimutkan handuk, membuat nafas kami terengah berhembus kembali lega, “huh
mengagetkan saja kami kira hantu” gerutu kami.
Ratusan
sepasang mata menatap langit hitam, sedikit bintang bertaburan di langit di
temani cahaya bulan purnama, sungguh pemandangan yang menakjubkan malam itu,
begitupun dengan aku yang tak melewatkan kesempatan melihat titik-titik cahaya
yang bertebaran di langit malam Kamojang. Kini aku telah menghempaskan tubuhku di
atas tanah berkerikil tanpa alas sama sekali, mata bulatku menatap beberapa
cahaya yang membias di langit, sudut bibir melekukan senyuman saat terpaan
angin malam membelai wajahku, sepertinya suasana malam begitu begitu dingin
menusuk tulang sampai aku tak sadar orang-orang yang sedang bernyanyi ria
mengiringi malam sunyi perlahan perlahan menghangatkan ku.
“kenapa tidak ikut bernyayi? Ayo agak
kedepan kita nikmati malam dingin ini dengan kehangatan” seseorang merangkulku
berjalan mengarah ke arah kicauan orang-orang yang sedang bernyanyi di depan api
unggun, aku mengangguk kecil sembari merangkul kembali pundak lebarnya.
“rasanya aku ingin melihat bintang dan
bulan saja, sayang jika di lewatkan begitu saja” ucapku
“tapi kau akan lebih menyesal jika kau
melewatkan malam ini tanpa keramayan mereka” seru sahabatku Nazma Rahayu.
Senyumku mengembang tatkala pikiran dan
telingaku beradu menangkap untaian kalimat dari mulut sahabatku itu, kupikir memang
benar, ku nikmati semuanya kami bernyanyi dan tertawa ria serasa tak igin
malam ini berlalu begitu saja, tiba-tiba kristal bening mengalir di kedua bola
mataku, aku rindu keluarga di rumah, aku rindu nasihat mamah, aku rindu
kejahilan-kejahilan ke 2 adikku, aku rindu diamnya sang ayah, aku rindu rumah,
aku rindu tedy bearku, aku rindu kasurku, aku rindu orang yang selalu
mengirimku sms, sayang disini tidak ada jaringan karenanya aku tidak bisa
menepati janjiku untuk menghubungi mamah di rumah.
Malam
berubah menjadi siang ku packing barang-barangku dan bergegas pulang,
sebelum kami pulang, kami mengelilingi kawah kamojang terlebih dahulu sembari
eksis di depan lensa kamera, setelahnya kami memasuki angkot semula, dan tibalah di penghujung cerita 4 ban
bergelinding meninggalkan tempat bermakna ini dengan pesat good bye.
THE END