Kamis, 24 Desember 2015

~Fana Asmara~




Nida Najibah


Adakah cintaku?
Elok kah tanya ku?
Cinta…
Jikalau kau menghampiriku
Dekatiku...
Jikalau ilahi menghendakimu
cinta kanda ku, kan daku dekap
ikrar cintaku, kan daku cinta
Kasih sayangku, kan daku kasih
Rusukmu kan daku rasuki
Mahligai nirwana kan kita padati
Kebesasan, kebahagiaan kan kita dapati
Isak duka  kan kita lewati.
Bersama…

Minggu, 20 Desember 2015

KORELASI MENYIMAK DAN BERBICARA DALAM KONTEKS KEMAHIRAN BERDISKUSI


MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan
Program Pemantapan Kaderisasi Mahasiswa (P2KM)





oleh
Nida Najibah
NPM 152121093





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2015








KORELASI MENYIMAK DAN BERBICARA DALAM KONTEKS KEMAHIRAN BERDISKUSI

Nida Najibah
NPM 152121093

ABSTRAK
Nida Najibah.2015.Korelasi Menyimak dan Berbicara dalam Konteks Kemahiran Berdiskusi.Program Pemantapan Kaderisasi Mahasiswa (P2KM).

Menyimak dan berbicara merupakan bagian dari komponen kemahiran berbahasa, keduanya  diberikan Tuhan secara alamiah untuk menunjang makhluknya dalam berkomunikasi, banyak cara yang dilakukan dalam kegiatan meningkatkan kegiatan komunikasi yang mendidik, efektif, dan lugas bagi siswa atau masyarakat umum, salah satunya dengan diskusi. Kesalahan yang sering terjadi adalah kadang orang tidak memedulikan syarat menyimak dan berbicara yang menunjang kecakapan dalam berdiskusi, sehingga ketika berdiskusi mereka cenderung berdiskusi saja tanpa mengetahui kemampuan apa saja yang harus dimiliki atau diperhatikan ketika berdiskusi.
Tujuan penulis adalah untuk Mendeskripsikan pengertian menyimak, berbicara, dan berdiskusi, yang di dalamnya meliputi hubungan menyimak dengan berbicara, faktor keberhasilan menyimak dan berbicara yang memengaruhi kemahiran berdiskusi, jenis-jenis diskusi, keunggulan diskusi, kelemahan diskusi dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam diskusi.
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguaraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema makalah.
Dalam berdiskusi menyimak dan berbicara memiliki hubungan yang sangat berkesinambungan dan di dalamnya terdapat faktor yang memengaruhi keberhasilannya, yaitu faktor keberhasilan menyimak dan faktor keberhasilan berbicara, faktor berbicara dibagi lagi menjadi faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Jenis-jenis yang dapat dipakai dalam berdiskusi beberapa diantaranya diskusi panel, simposium, seminar, lokakarya, dan kelompok studi. Keunggulan dari berdiskusi adalah dapat memberikan pengetahuan, melatih keberanian berbicara, membuat siswa dapat berpikir logis dan kreatif, membantu menerobos jalan buntu, ide dapat diuji secara subjektif  dan tidak memihak. Kelemahan diskusi dapat terjadi ketika kegagalan memahami, kebingungan menghadapi suatu perbedaan yang nantinya akan memicu perselisihan, terkadang ada peserta yang mendominasi, dan ada peserta yang kurang berani berpendapat.
Maka dari itu harus ada hal-hal yang diperhatikan dalam diskusi untuk meminimalisir kelemahan yang ada, yaitu dengan memerhatikan pentingnya peranan moderator, notulis dan peserta yang memenuhi syarat.


A.    Pendahuluan
Sebagai makhluk sosial manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu hidup dalam lingkungan manusia. Mereka selalu hidup berkelompok mulai dari kelompok kecil misalnya keluarga, sampai kelompok besar seperti organisasi sosial. Dalam setiap kelompok itu mereka selalu berinteraksi, interaksi antar warga kelompok ditopang dan didukung oleh alat komunikasi yang mereka miliki bersama yaitu bahasa, disetiap kelompok manusia pasti ada bahasa. Bahasa adalah satu-satunya alat komunikasi manusia terbaik yang hanya dimiliki manusia yang dapat menjalankan peranannya dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Kenyataan ini berlaku baik pada masyarakat teradisional maupun pada masyarakat modern, maka dari itu jelas dalam masyarakat itu diperlukan keterampilan berbahasa.
Keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh manusia beberapa diantaranya terdiri dari menyimak dan berbicara. Urutan pemerolehan kemahiran berbahasa pada umumnya  berawal dari menyimak terlebih dahulu kemudian berbicara, ini terjadi karena ketika bayi dilahirkan ke dunia awal kemampuan yang bayi miliki adalah alat indra pendengaran kemudian alat lisan, berbicara diperoleh berawal dari kemampuan bayi mendengar ujaran-ujaran yang ada di lingkungannya lalu menjadi imitasi atau tiruan, sehingga bayi mencoba untuk mempresentasikan apa yang dia dengar dan dia lihat dengan cara bunyi tersebut ditransformasikan ke dalam otak untuk dikonsepsi dan dikonseptualisasi sehingga keluar melalui alat ucap yang dimilikinya sehingga menjadi pesan yang ingin disampaikan. Menyimak dan berbicara lebih dahulu diperoleh di lingkungan keluarga sebelum memasuki lingkungan sekolah, pada dasarnya kedua keterampilan tersebut memiliki keterikatan yang menjadi satu kesatuan, setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa yang akan dipakai dalam berkomunikasi.
Untuk berkomunikasi dengan baik manusia dituntut untuk terampil menyimak dan berbicara, dengan kemampuan menyimak dan berbicara diharapkan akan membantu dirinya dalam menyampaikan apa yang dia pikirkan baik berupa ide, gagasan, ataupun perasaan yang akan diungkapkannya secara lisan. kemampuan berbahasa lisan atau berbicara berhubungan erat dengan perkembangan kosa kata yang diperoleh sang anak, dimulai dari kosa kata lalu membentuk kalimat kemudian membentuk sebuah paragraf. Banyak cara yang dilakukan dalam  meningkatkan kegiatan komunikasi yang mendidik, efektif, dan lugas bagi siswa ataupun masyarakat umum, salah satunya dengan diskusi. Diskusi sangat bermanfaat bagi perkembangan kemampuan menyimak dan berbicara anak, yang akan menjadi dasar dari kemampuan berkomunikasi, anak selain dilatih berpikir kritis untuk memecahkan masalah, juga dapat melatih keberanian dan kemampuan berbicara secara bebas dan menangkap bunyi beserta memahami maknanya secara aktif dalam proses menyimak.
Kesalahan yang sering terjadi adalah terkadang orang tidak memerdulikan komponen-komponen yang menunjang kecakapan dalam berdiskusi tersebut, ketika berdiskusi mereka cenderung berdiskusi saja tanpa mengetahui kemampuan apa saja yang harus dimiliki atau diperhatikan ketika berdiskusi, kemampuan berbicara dan menyimak tersebutlah yang akan menunjang kemahiran berdiskusi walaupun menyimak dan berbicara merupakan kegiatan yang sering dilakukan sehari-hari dan cenderung orang banyak berpikir tidak perlu memelajarinya karena dianggap mampu menguasai tanpa dipelajari, hal tersebut menjadi suatu kesalahan yang besar, sebenarnya banyak sekali hal yang harus dipelajari dalam menyimak dan berbicara yang akan membantu kita  mahir  dalam berdiskusi.
Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk membahas makalah yang berjudul “KORELASI MENYIMAK DAN BERBICARA DALAM KONTEKS KEMAHIRAN BERDISKUSI”.
Di dalam makalah ini penulis akan memaparkan inti masalahnya, maka untuk lebih jelas dan terperinci, terlebih dahulu penulis akan merumuskan permasalahan yang terdiri dari pengertian menyimak, pengertian berbicara, pengertian diskusi, dan di dalam makalah ini penulis akan memaparkan hubungan antara menyimak dan berbicara, di dalam hubungan yang memiliki aspek yang saling berkesinambungan pasti di dalamnya terdapat faktor keberhasilan yang menunjang kegiatan diskusi, maka dari itu penulis menambahkan faktor keberhasilan menyimak dan berbicara yang memengaruhi kemahiran berdiskusi, diskusi terdiri dari berbagai macam yang menunjang para pemakainya sesuai dengan lingkungnan dan kebutuhannya, maka penulis juga akan membahas jenis-jenis diskusi, di dalam kegiatan diskusi terdapat keunggulan yang akan menarik para penggunanya untuk berdiskusi, selain mengetahui keunggulan para pengguna yang melakukan kegiatan ini  harus mengetahui apa saja kelemahan dari diskusi, untuk meminimalisir kelemahan diskusi penulis juga menambahkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam diskusi.
Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam makalah ini untuk mengetahui pengertian menyimak, untuk mengetahui pengertian berbicara, untuk mengetahui pengertian berdiskusi, untuk mengetahui hubungan menyimak dengan berbicara, untuk mengetahui faktor keberhasilan menyimak dan berbicara yang memengaruhi kemahiran berdiskusi, untuk mengetahui jenis-jenis diskusi, untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan diskusi, dan untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam diskusi.
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai pengembangan konsep korelasi menyimak dan berbicara dalam konteks kemahiran berdiskusi. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi penulis sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang konsep korelasi menyimak dan berbicara dalam konteks kemahiran berdiskusi, juga bermanfaat bagi pembaca sebagai media informasi tentang konsep kolerasi menyimak dan berbicara dalam konteks kemahiran berdiskusi baik secara teoretis maupun secara prakstis.
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguaraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema makalah.


B.     Pengertian Menyimak
Menurut Tarigan (1986:19), bahwa menyimak adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami  makna komunikasi yang disampaikan si pembicara melalui bahasa lisan atau ujaran.

Menurut Anderson (1972:68), bahwa menyimak sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan.
Dari dua pengertian tentang menyimak yang dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan menyimak merupakan tindakan atau aktivitas mental dalam menangkap, memahami, menimbang dan merespon pesan yang terkandung dalam lambing-lambang bahasa lisan.


C.    Pengertian Berbicara
Menurut Arsjad dan U.S (1993:23), “Berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan”.
Menurut Tarigan (2008:3), mengemukakan bahwa berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak yang hanya  didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.

Menurut Tarigan (1990:149), “Berbicara adalah keterampilan menyampaikaan pesan melalui bahasa lisan”
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah keterampilan untuk mengucapkan untaian kata sehingga apa yang ada di dalam pikiran dapat tergambarkan dengan jelas dan diterima oleh para penyimaknya.


D.    Pengertian Diskusi
Jhon Stuart Mill pernah mengatakan bahwa, satu-satunya cara, tempat dimana manusia dapat mengemukakan beberapa pendekatan, untuk mengetahui keseluruhan suatu pokok pembicaraan adalah dengan jalan mengetahui keseluruhan suatu pokok pembicaraan adalah dengan jalan mengetahui segala hal yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda. Powers, (1951:263).

Diskusi berasal dari bahasa latin yaitu discution atau discusium yang artinya bertukar pikiran. Akan tetapi belum tentu setiap kegiatan bertukar pikiran dapat dikatakan berdiskusi. Diskusi pada dasarnya merupakan suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil atau kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapat suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. (Arsjad & U.S, 1988:37)

Pada hakikatnya diskusi merupakan suatu metode untuk memecahkan permasalahan dengan proses berpikir kelompok. Oleh karena itu, diskusi merupakan suatu kegiatan kerja sama atau aktivitas koordinatif yang mengandung langkah-langkah dasar tertentu yang harus dipatuhi oleh seluruh kelompok.


E.     Hubungan Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka atau fece to face communication  (Brooks, 1964:134)
Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata yang akan berpengaruh pada kelangsungan kegiatan diskusi yaitu:
1.      Ujaran (Speech) biasa dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi)  oleh karena itu, model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara dalam diskusi.
2.      Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh perangsang (stimuli) yang ditemuainya (misalnya kehidupan desa, kota) dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian dalam gagasan-gagasannya.
3.      Ujaran sang anak mencerminkan pemakain bahasa di rumah dan di dalam masyarakat tempatnya hidup, hal ini misalnya terlihat nyata dalam ucapan, intonasi, kosa kata, penggunaan kata-kata, dan pola-pola kalimatnya.
4.      Anak yang masih kecil lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit tinimbang kalimat-kalimat yang diucapkannya.
5.      Meningkatkan keterampilan menyimak berarti pula membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
6.      Bunyi suara merupakan suatu faktor yang penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata sang anak, oleh karena itu sang anak akan tertolong kalau dia mendengar serta menyimak ujaran-ujaran yang baik dan benar dari para guru, rekaman-rekaman yang bermutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan lain-lain.


F.     Faktor Keberhasilan Menyimak dan Berbicara yang Memengaruhi Kemahiran Berdiskusi
Didalam suatu kegiatan menyimak dan berbicara pasti akan terdapat hal-hal yang akan memengaruhi keberhasilannya, pengaruh ini juga akan memengaruhi  dalam kegiatan berdiskusi, penulis paparkan sebagai berikut:
1.      Faktor yang memengaruhi keberhasilan menyimak dalam kemahiran berdiskusi:
a.       Aspek pembicara
Kemampuan dan sikap pembicara dapat memengaruhi keberhasilan menyimak dalam berdiskusi. Pembicara yang menguasai materi yang dibahasnya, dan memiliki sikap simpatik terhadap penyimak, serta menguasai atau memiliki gaya bicara yang menarik, serta menyampaikan secara beraturan dipastikan dapat menarik dan meyakinkan bagi penyimak. Kondisi pembicaraan demikian berpotensi dapat mendukung keberhasilan menyimak. Namun jika sebaliknya, maka kondisi pembicaraan akan tidak menarik dan tidak meyakinkan bagi penyimak. Hal demikian sangat memungkinkan terjadinya ketidakberhasilan dalam menyimak.
b.      Aspek pembicaraan
Pembicaraan yang meliputi isi dan bentuknya memiliki karakteristik tertentu. Isi atau materi pembicaraan yang baru, menarik, sistematikanya tersusun runtut, dan tingkat kesukarannya sesuai dengan kemampuan penyimak, dapat menggugah motivasi penyimak untuk menyimak dengan sungguh-sungguh.
c.       Aspek situasi
Hal yang memengaruhi meliputi tempat, waktu berlangsungnya diskusi dan suasana lingkungan diskusi. Usahakan mengondisikan tempat yang  menyenangkan, waktu berlangsungnya pada jam yang tepat (saat pendengaran masih segar), dan suasana lingkungan yang tenang yang dapat mendukung keberhasilan menyimak dalam kegiatan berdiskusi. Sangat berbeda dengan proses menyimak pada suasana lingkungan yang gaduh disertai cuaca yang panas dapat dipastikan akan membuat konsentrasi penyimak kurang terpusat dan perasaan tidak senang ketika diskusi berlangsung, sehingga hasil simakan diskusi pun tidak akan sempurna.
d.      Aspek penyimak
Faktor yang terdapat pada diri penyimak meliputi faktor fisik dan psikologis. Faktor fisik berhubungan dengan kesehatan fisik penyimak, sedangkan faktor psikologis berhubungan dengan kesehatan mental, minat, motivasi, dan kecerdasan penyimak. Kita dapat merasakan sulitnya menyimak ketika kondisi fisik (jasmani) kita dalam keadaan sakit. Begitupula bagaimana konsentrasi kita dapat terpusat pada meteri yang disimak manakala mental kita sedang kalut dan minat kita untuk memahami isi pembicaraan tidak ada, ada prasangka dan kurang simpati terhadap pembicara dengan alasan tertentu, keegosentrisan dengan keasikan minat dan masalah pribadi, kebosanan dan kejenuhan. Selain itu, keberhasilan menyimak ditentukan pula oleh tingkat kecerdasan dan pengalaman penyimak. Dari hasil penelitian diketahui bahwa anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi adalah anak yang mampu menyimak dengan baik, dan dengan pengalaman yang banyak anak akan serba tahu dengan informasi yang disampaikan dan akan mengahasilkan keefektifan dalam berpikir sehingga dirinya dapat memverifikasi materi diskusi sesuai kebutuhan yang belum dia ketahui. Sebagian faktor peranan dalam masyarakat pun menjadi faktor dari penyimak, yaitu penyimak yang menyimak sesuai kebutuhan informasi profesinya.
2.      Faktor yang memengaruhi penunjang kefektifan berbicara dalam kemahiran berdiskusi:
a.       Faktor kebahasaan:
1)      Ketepatan ucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar. Kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, sehingga terjadi suatu penyimpangan, maka keefektifan komunikasi akan terganggu. Dalam sehari-hari kita belum mengenal lafal baku, namun sebaiknya ucapan kita jangan terlalu diwarnai dengan bahasa daerah, sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar.
Demikian juga halnya dengan pengucapan tiap suku kata, tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya. Ada suku kata yang diucapkan berdempet, kadang ada yang hilang bunyi-bunyi tertentu. Sebaliknya ada pula kecenderungan pembicara menambahkan bunyi-bunyi tertentu di belakang suku kata atau di belakang kata. Hal ini selain membingungkan pendengar, tentu juga dapat mengalihkan perhatian pendengar, sehingga mengurangi keefektifan berbicara. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan,  kurang menarik, atau sedikitnya dapat mengalihkan perhatian pendengar. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan bahasa, sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakainya (pembicara) yang dianggap aneh.
2)      Penempatan Tekanan, Nada, sendi, dan Durasi yang sesuai
Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi  merupakan daya tarik  tersendiri dalam berbicara, bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi dan durasi yang sesuai, akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
Demikian juga halnya dalam pemberian tekanan pada kata atau suku kata. Misalnya kata penyanggah, pemberani, kesempatan, kita beri tekanan pada pe-, pem-, ke-, tentu kedengarannya janggal, sehingga pokok pembicaraan atau pesan yang disampaikan kurang diperhatikan.
3)      Pilihan kata (Diksi)
Pilihan kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi. Selain itu hendaknya dipilih kata-kata yang konkret sehingga mudah dipahami pendengar. Kalau si pembicara memaksakan diri memilih kata-kata yang tidak dipahaminya dengan maksud supaya lebih mengesankan, malah akibatnya sebaliknya. Demikian juga sebaliknya, karena pembicara ingin turun ke kalangan pendengarnya, maka ia menggunakan bahasa yang populer atau kata-kata yang tidak baku. Tetapi akibatnya kedengarannya tidak wajar. Dalam hal ini hendaknya pembicara menyadari siapa pendengarnya dan apa pokok pembicaraannya, dan menyesuaikan pilihan katanya dengan pokok pembicaraan dan pendengarnya.
Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicara dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya, dalam arti yang betul-betul menjadi miliknya, baik sebagai perorangan maupun sebagai pembicara. Selain itu, pilihan kata juga disesuaikan dengan pokok pembicaraan. Tentu dalam situasi ini kita tidak berbicara secara santai mengenai masalah-masalah yang rumit dan serius, sebaliknya berbicara secara serius mengenai hal-hal yang santai.
4)      Ketepatan sasaran pembicara
Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efekktif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh. Meninggalkan kesan, atau menimbulkan akibat.
Kalimat efektif mempunyai ciri-ciri keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata betul-betul merupakan bagian yang padu dari sebuah kalimat. Keutuhan kalimat akan rusak karena ketiadaan subjek atau adanya kerancuan. Perpautan, bertalian dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dengan kata, frase dengan frase dalam sebuah kalimat. Hubungan itu harus jelas dan logis. Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata, sehingga tidak ada kata-kata yang tidak berfungsi, maka kata-kata ini dapat disingkirkan.
Sebagai sarana komunikasi, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran pendengar persis seperti apa yang dimaksud pembicara. Seorang pembicara juga harus tahu siapa pendengarnya dan menyesuaikan gaya kalimatnya dengan pendengar tersebut.
b.      Faktor nonkebahasaan
Kefektifan berbicara tidak hanya didukung oleh faktor kebahasaan saja tapi juga ditentukan oleh faktor nonkebahasaan. Bahkan dalam diskusi formal, faktor nonkebahasaan ini sangat mempengaruhi kefektifitasan dalam berdiskusi, sebaiknya faktor ini ditanamkan terlebih dahulu sehingga kalau faktor nonkebahasaan sudah dikuasai akan memudahkan penerapan faktor kebahasaan. Maka dari itu penulis akan memarpakan faktor nonkebahasaan sebagai berikut:
1)      Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku.
Pembicara yang tidak tenang, lesu, dan kaku tentulah akan memberikan kesan pertama yang kurang menarik. Padahal kesan pertama ini sangat penting untuk menjamin adanya kesinambungan perhatian pihak pendengar. Dari sikap yang wajar saja sebenarnya pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi.
2)      Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara.
Agar pendengar dan pembicara benar-benar terlibat dalam kegiatan berbicara, pandangan pembicara sangat membantu. Hal ini sering diabaikan oleh pembicara. Hendaknya diusahakan agar pendengar merasa terlibat dan diperhatiakan.
3)      Kesediaan menghargai pendapat orang lain.
Seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat pihak lain atau bersedia menerima kritik, bersedia merubah pendapatnya apabila ternyata salah.
4)      Gerak-gerik dan mimik yang tepat.
Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara, tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara, mungkin perhatian pendengar akan terarah pada gerak-gerik dan mimik berlebihan ini, sehingga pesan kurang dipahami.
5)      Kenyaringan suara
Tingkat kenyaringan suara ini tentu disesuaikan dengan situasi, tempat, dan jumlah pendengar. Aturlah kenyaringan suara kita agar dapat didengar oleh semua pendengar dengan jelas, dengan juga mengingat kemungkinan dari luar.
6)      Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya.
7)      Relevansi atau penalaran.
Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
8)      Penguasaan topik.
Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya agar topik yang dipilih benar-benar dikuasai. Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi penguasaan topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara.


G.    Jenis-jenis Berdiskusi
Jenis-jenis dari diskusi beberapa diantaranya sebagai berikut:
1.      Diskusi panel
Diskusi panel adalah suatu kelompok yang terdiri dari tiga sampai enam orang ahli yang ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya dari berbagai segi mengenai suatu masalah untuk kepentingan pendengar. Panel dipimpin oleh seorang moderator. Masalah yang didiskusikan dapat memberikan pelbagai penerangan atau perluasan pengetahuan kepada pendengar tentang masalah yang sedang hangat dalam masyarakat.
Para panelis tidak selalu satu pendapat, bahkan perbedaan pendapat lebih merangsang para pendengar. Dengan mendengarkan beberapa pendapat para ahli, pendengar akan dibimbing ke arah berpikir secara kritis dan melatih kemampuan menganalisis masalah. Berhasil atau tidaknya panel sangat tergantung kepada kelincahan moderator.
Tidak selalu para panelis satu pendapat, bahkan perbedaan pendapat panelis lebih merangsang para pendengar. Dengan mendengarkan beberapa pendapat para ahli, pendengar akan dibimbing ke arah berpikir secara kritis dan melatih kemampuan menganalisis masalah. Berhasil atau tidaknya panel sangat bergantung pada kelincahan moderator.
2.      Simposium
      Simposium hampir sama dengan panel, hanya lebih bersifat formal. Pemrasan harus menyampaikan makalah mengenai suatu masalah yang disorot  dari sudut keahlian masing-masing. Peranan moderator tidak seaktif dalam diskusi panel, tapi sebaliknya para pendengar atau pesertalah yang lebih aktif berpartisipasi. Masalah yang dibahas dalam simposium mempunyai ruang lingkup yang laus, sehingga perlu ditinjau dari berbagai sudut atau aspek ilmu untuk mendapatkan perbandingan. Pada simposium diadakan sanggahan umum terhadap suatu prasaran dan sanggahan itu disusun secara tertulis. Para peserta dapat mengemukakan pendapat secara langsung kepada pemrasan melalui moderator. Dalam simposium tidak diambil suatu keputusan, tetapi hanya mendapat perbandingan tentang suatu masalah.
3.      Seminar
      Seminar merupakan suatu pertemuan untuk membahas suatu masalah tertentu dengan prasaran dan tanggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan suatu keputusan bersama mengenai tersebut. Berbeda dengan simposium, masalah yang dibahas dalam seminar mempunyai ruang lingkup yang terbatas dan tertentu. Tujuannya adalah untuk mendapatkan jalan keluar dari suatu masalah. Oleh sebab itu, peserta seminar terdiri dari orang-orang yang berkecimpung dalam masalah tersebut, sehingga dapat memberikan pandangan dan pendapat dalam pemecahan masalah tersebut. Seminar merupakan pembahasan secara ilmiah, walaupun yang menjadi topik pembicaraan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya adalah untuk memecahkan suatu masalah. Oleh sebab itu seminar harus diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan baik berbentuk usul, saran resolusi, atau rekomendasi.
      Secara garis besarnya, seminar dilaksanakan dimulai dengan mendengarkan pandangan umum tentang suatu masalah, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok (sidang komisi), kelompok-kelompok bersidang kembali untuk mensahkan kesimpulan komisi (sidang pleno), hasil rumusan dalam bentuk usul, saran, resolusi, dan sebagainya yang dianggap perlu.
4.      Lokakarya
      Masalah lainnya dari lokakarya atau sebutan lainnya adalah workshop mempunyai ruang lingkup tertentu dan dibahas secara mendalam. Pesertanya adalah orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut. Dalam lokakarya masalah dibahas melalui prasaran dan tanggapan, serta diskusi secara mendalam. Kalau perlu diikuti dengan demonstrasi atau peragaan. Biasanya lokakarya ini diikuti oleh sekelompok orang yang bergerak dalam lingkungan kerja yang sejenis atau seprofesi. Lokakarya biasanya adakan apabila ingin mengevaluasi suatu proyek yang sudah dilaksanakan, ingin mengadakan pembaharuan sesuai kebutuhan dan tuntuan masyarakat, untuk bertukar pengalaman dengan tujuan lebih meningkatkan kemampuan kerja.
5.      Kelompok Studi
      Kelompok studi ini mungkin merupakan suatu hasil pertumbuhan dari suatu keinginan untuk memperoleh informasi. Di dalam kelas misalnya, suatu kelompok studi dapat membicarakan permasalahan.
      Istilah study group juga disebut lecture discussion (diskusi kuliah) yang merupakan bentuk diskusi yang paling sering terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi. Ini merupakan yang paling cocok dan serasi bagi situasi-situasi dimana para pendengar menginginkan pengetahuan mengenai suatu pokok tertentu.


H.    Keunggulan dan Kelemahan Diskusi
1.      Keunggulan Diskusi
      Berdiskusi dapat memberikan pengetahuan mengenai sumber yang lebih banyak bagi pemecahan masalah. Diskusi juga berguna jika terdapat dua pandangan yang bertentangan dan harus diajukan sifat memilih salah satu dari pandangan yang segera akan dilaksanakan. Pengenalan pandangan baru tersebut akan membantu menerobos jalan buntu. Melalui diskusi pandangan atau ide dapat diuji secara subjektif  dan tidak memihak dan tidak mengutamakan kepentingan sendiri. Diskusi sangat diperlukan bagi pemerintah demokrasi, dalam Negara demokrasi warga Negara mempunyai kebebasan untuk mendiskusikan, membedakan, membandingkan pendapat, menggunakan hak bebas berbicara serta menyatukan hasil pemikiran mereka. Disinilah letak harapan bagi masa depan cara hidup demokratis.
      Sebagai pelajar kita dituntut untuk bisa berbicara, di dalam diskusi  kemampuan berbicara kita akan  dilatih, mengingat jumlah peserta dalam diskusi cukup banyak, maka sangat tepat untuk melibatkan setiap individu dalam diskusi, jika suasana diskusi dipakai dalam kegiatan belajar diskusi dapat mengefektifkan berbicara karena berbicara dalam diskusi jauh lebih ringan dibandingkan secara individual, waktu berbicara akan jauh lebih singkat dan perhatian pendengar tidak tertuju kepada satu individu saja, tetapi terbagi kepada semua anggota. Anggota yang pasif pun akan terasang oleh moderator sehingga tidak terjadi kekosongan,  dan diskusi pun dapat menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan dari situasi belajar yang terus menerus sama dalam mata pelajaran yang lain, maka dari itu diskusi akan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
      Diskusi akan memancing kreativitas dan meningkatkan taraf berpikir penggunanya, mereka dapat menganalisis dan mengakplikasikan materi yang sedang diajarkan, dengan diskusi seseorang dapat memiliki banyak pengalaman yang lebih luas dan beragam, karena pengetahuan yang didapat dalam diskusi belum tentu didapat dari membaca atau mendengarkan pendidik. Melalui diskusi  kita dapat belajar cara orang lain memecahkan masalah.
      Diskusi juga akan melatih siswa berpikir secara logis karena di dalam  diskusi terdapat adu argumentasi, argumen yang dikemukakan akan mendapat penilaian dari anggota yang lain, sehingga hal ini dapat meningkatkan kamampuan berpikir dalam memecahkan suatu masalah, umpan balik dapat diterima secara langsung, sehingga hal ini dapat memperbaiki cara berbicara si pembicara, baik yang menyangkut faktor kebahasaan maupun nonkebahasaan, para peserta diskusi turut berkontribusi, mempertimbangkan gagasan yang berbeda-beda dan turut memasukan persetujuan bersama tanpa emosi untuk menang sendiri.
2.      Kelemahan Diskusi
Didalam kegiatan berdiskusi sering dijumpai kegagalan memahami, termasuk salah paham terhadap makna-makna setiap kata orang lain. Ada  juga perselisihan pendapat yang meruncing tanpa adanya keinginan untuk berkompromi, kebingunan menghadapi suatu perbedaan pendapat dapat menjadi suatu serangan terhadap suatu pendapat pribadi seseorang akibatnya, timbul hilangnya kesabaran dalam kemarahan yang tidak tanggung-tanggung. Ada juga yang mempergunakan waktu untuk membantah sebagai pengganti mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan ada juga yang mempergunakan kata-kata yang bernoda yang menumpulkan pikiran.
Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh peserta atau siswa yang menonjol saja. Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi, akan tetapi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan, diskusi yang mendalam memerlukan waktu yang banyak dan akibatnya akan dikejar-kejar waktu dan perasaan dibatasi waktu tersebut akan menimbulkan terkadang dalam diskusi sehingga hasilnya tidak maksimal, apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakan pikiran mereka maka biasanya sulit untuk membatasi pokok masalahnya. Sering terjadi juga peserta atau siswa yang kurang berani mengemukakan pendapatnya, dan jumlah di dalam kelas terlalu besar akan mempengeruhi setiap siswa untuk mengemukakan pendapatnya.


I.       Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Diskusi
Suksesnya sebuah diskusi sangat tergantung kepada kepemimpinan moderator atau pimpinan diskusi. Pimpinan diskusi bukanlah seperti pemimpin biasa lazimnya, tetapi ia bertindak sebagai orang penuntun atau pengendali kelompoknya. Tugas-tugas yang harus dilakukan moderator yaitu menjelaskan tujuan dan maksud tertentu dalam diskusi hal ini penting untuk mengarahkan anggota, menjamin kelangsungan diskusi secara secara teratur dan tertib, memberikan stimula anjuran, ajakan, agar setiap peserta betul-betul mengambil bagian dalam diskusi tersebut, menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan dan kemudian membuat kesimpulan atas persetujuan dan kesepakatan bersama, menyiapkan laporan. Pemimpin diskusi dituntut untuk menguasai dan memiliki pengetahuan yang luas tentang topik diskusi, berwibawa dan tidak memihak, harus memberikan pengerahan, berpegang teguh pada metode dan teknik diskusi, dapat merangsang dan mendorong anggotanya, tidak mengeritik dan mencemooh, dapat memeringatkan anggotanya supaya tidak keluar dari topik pembahasan, membatasi anggota yang terlalu banyak bicara dan memberi sugesti kepada anggota yang tidak mau berbicara.
Selain ketua notulis bertugas mencatat jalannya diskusi dan membantu ketua menyimpulkan hasil diskusi.
Dinamika dan aktivitas diskusi juga sangat ditentukan oleh peserta diskusi. Oleh karena itu, peranan dan tugas serta sikap peserta diskusi sangat menentukan. Untuk menjadi peserta yang baik maka harus memperhatikan beberapa hal yaitu menguasai masalah yang dikuasainya, menyimak setiap pembicara dengan penuh perhatian, menunjukan solidaritas dan partisipasi yang tinggi, sikap emosional dan berprasangka harus dihindari, dapat menangkap dan mencatat gagasan utama  dan gagasan penunjang si pembicara, membuat beberapa usul dan sugesti, dan meminta pendapat dan informasi sebanyak mungkin, mengajukan keberatan terhadap pendapat  orang lain dengan mengemukakan argumentasi yang lebih meyakinkan. Hal ini tidak berarti menentang pendapat oranglain, ikut membantu  menyimpulkan hasil diskusi.


J.      Simpulan dan Saran
Menyimak merupakan tindakan atau aktivitas mental dalam menangkap, memahami, menimbang dan merespon pesan yang terkandung dalam simbol-simbol bahasa lisan. Berbicara adalah keterampilan untuk mengucapkan untaian kata sehingga apa yang ada di dalam pikiran dapat tergambarkan dengan jelas dan diterima oleh para penyimaknya. Diskusi merupakan suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil atau kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapat suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah.
Dengan adanya diskusi bisa menjadi tempat untuk berbagi ide, pendapat dan pemecahan suatu masalah dengan suatu keputusan sebagai jalan keluar, sehingga para anggota bisa berkembang secara optimal. Diskusi  bukan hanya bermanfaat bagi para anggota dalam kegiatan formal saja, melainkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan menyimak yang akan membantu kegiatan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Jenis-jenis diskusi ada bermacam-macam tergantung dari aspek mana kita melihatnya. Di dalam diskusi terdapat banyak keunggulan dan kelemahannya, maka dari itu harus ada hal-hal yang diperhatikan dalam diskusi untuk meminimalisir kelemahan yang ada, yaitu dengan memerhatikan pentingnya peranan moderator, notulis dan peserta yang memenuhi syarat.
Untuk menunjang  keaktifan dalam kemahiran diskusi dengan baik, Kiranya dalam pelaksanaan diskusi semua anggota dapat mengaplikasikan kegiatan menyimak dan berbicara sesuai dengan tuntunan dalam makalah, tentunya semua itu tidak luput dari peranan individu masing-masing yang melaksanakannya, maka dari itu anggota harus dapat pintar-pintar menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang nantinya akan memengaruhi kegiatan menyimak, berbicara dan diskusi.


DAFTAR PUSTAKA
Arsjad, Maidar G. Mukti U.S. (1988). Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Bunda, Ria. (2014). Pengertian Berbicara Menurut Para Ahli. [Online].

Heryadi, Dedi. (2014). Kemahiran Menyimak. Tasikmalaya: Program PPS Unsil Press.

Parera, Jos D. (1991). Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.


Riadi, Muchlisin. (2013). Metode Diskusi dalam Belajar. [Online].
Tersedia:http://www.kajianpustaka.com/2013/01/metode-diskusi-dalam-belajar.html.[10 November 2015]. [07:20].

Tarigan, Djago. Dkk. (2006). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tarigan, Henry G. (2008). Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry G. (1990). Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.