MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan
Program Pemantapan Kaderisasi Mahasiswa (P2KM)
oleh
Nida Najibah
NPM 152121093
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SILIWANGI
TASIKMALAYA
2015
KORELASI MENYIMAK DAN BERBICARA DALAM KONTEKS KEMAHIRAN
BERDISKUSI
Nida Najibah
NPM 152121093
ABSTRAK
Nida Najibah.2015.Korelasi Menyimak dan Berbicara dalam Konteks
Kemahiran Berdiskusi.Program
Pemantapan Kaderisasi Mahasiswa (P2KM).
Menyimak
dan berbicara merupakan bagian dari komponen kemahiran berbahasa, keduanya diberikan Tuhan secara alamiah untuk
menunjang makhluknya dalam berkomunikasi, banyak cara yang dilakukan dalam kegiatan meningkatkan
kegiatan komunikasi yang mendidik, efektif, dan lugas bagi siswa atau
masyarakat umum, salah satunya dengan diskusi. Kesalahan yang sering terjadi
adalah kadang orang tidak memedulikan syarat menyimak dan berbicara yang
menunjang kecakapan dalam berdiskusi, sehingga ketika berdiskusi mereka
cenderung berdiskusi saja tanpa mengetahui kemampuan apa saja yang harus
dimiliki atau diperhatikan ketika berdiskusi.
Tujuan
penulis adalah untuk Mendeskripsikan pengertian menyimak, berbicara, dan
berdiskusi, yang di dalamnya meliputi hubungan menyimak dengan berbicara,
faktor keberhasilan menyimak dan berbicara yang memengaruhi kemahiran
berdiskusi, jenis-jenis diskusi, keunggulan diskusi, kelemahan diskusi dan
hal-hal yang harus diperhatikan dalam diskusi.
Makalah
ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguaraikan
permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoretis dalam
makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya
penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan
dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui
kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam
konteks tema makalah.
Dalam
berdiskusi menyimak dan berbicara memiliki hubungan yang sangat
berkesinambungan dan di dalamnya terdapat faktor yang memengaruhi
keberhasilannya, yaitu faktor keberhasilan menyimak dan faktor keberhasilan
berbicara, faktor berbicara dibagi lagi menjadi faktor kebahasaan dan
nonkebahasaan. Jenis-jenis
yang dapat dipakai dalam berdiskusi beberapa diantaranya diskusi panel,
simposium, seminar, lokakarya, dan kelompok studi. Keunggulan
dari berdiskusi adalah dapat memberikan pengetahuan, melatih keberanian
berbicara, membuat siswa dapat berpikir logis dan kreatif, membantu menerobos
jalan buntu, ide dapat diuji secara subjektif
dan tidak memihak. Kelemahan diskusi dapat terjadi ketika kegagalan memahami,
kebingungan menghadapi suatu perbedaan yang nantinya akan memicu perselisihan,
terkadang ada peserta yang mendominasi, dan ada peserta yang kurang berani
berpendapat.
Maka
dari itu harus ada hal-hal yang diperhatikan dalam diskusi untuk meminimalisir
kelemahan yang ada, yaitu dengan memerhatikan pentingnya peranan moderator,
notulis dan peserta yang memenuhi syarat.
A.
Pendahuluan
Sebagai
makhluk sosial manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu hidup dalam
lingkungan manusia. Mereka selalu hidup berkelompok mulai dari kelompok kecil
misalnya keluarga, sampai kelompok besar seperti organisasi sosial. Dalam
setiap kelompok itu mereka selalu berinteraksi, interaksi antar warga kelompok
ditopang dan didukung oleh alat komunikasi yang mereka miliki bersama yaitu
bahasa, disetiap kelompok manusia pasti ada bahasa. Bahasa adalah satu-satunya alat komunikasi manusia terbaik yang
hanya dimiliki manusia yang dapat menjalankan peranannya dalam kehidupan
manusia dalam bermasyarakat. Kenyataan ini berlaku
baik pada masyarakat teradisional maupun pada masyarakat modern, maka dari itu
jelas dalam masyarakat itu diperlukan keterampilan berbahasa.
Keterampilan
berbahasa yang dimiliki oleh manusia beberapa diantaranya terdiri dari menyimak
dan berbicara. Urutan pemerolehan kemahiran berbahasa pada umumnya berawal dari menyimak terlebih dahulu
kemudian berbicara, ini terjadi karena ketika bayi dilahirkan ke dunia awal
kemampuan yang bayi miliki adalah alat indra pendengaran kemudian alat lisan,
berbicara diperoleh berawal dari kemampuan bayi mendengar ujaran-ujaran yang
ada di lingkungannya lalu menjadi imitasi atau tiruan, sehingga bayi mencoba
untuk mempresentasikan apa yang dia dengar dan dia lihat dengan cara bunyi
tersebut ditransformasikan ke dalam otak untuk dikonsepsi dan dikonseptualisasi
sehingga keluar melalui alat ucap yang dimilikinya sehingga menjadi pesan yang
ingin disampaikan. Menyimak dan berbicara lebih dahulu diperoleh di lingkungan
keluarga sebelum memasuki lingkungan sekolah, pada dasarnya kedua keterampilan
tersebut memiliki keterikatan yang menjadi satu kesatuan, setiap keterampilan
itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa
yang akan dipakai dalam berkomunikasi.
Untuk
berkomunikasi dengan baik manusia dituntut untuk terampil menyimak dan
berbicara, dengan kemampuan menyimak dan berbicara diharapkan akan membantu
dirinya dalam menyampaikan apa yang dia pikirkan baik berupa ide, gagasan,
ataupun perasaan yang akan diungkapkannya secara lisan. kemampuan berbahasa lisan atau berbicara berhubungan erat dengan
perkembangan kosa kata yang diperoleh sang anak, dimulai dari kosa kata lalu
membentuk kalimat kemudian membentuk sebuah paragraf. Banyak cara yang
dilakukan dalam meningkatkan kegiatan
komunikasi yang mendidik, efektif, dan lugas bagi siswa ataupun masyarakat
umum, salah satunya dengan diskusi. Diskusi sangat bermanfaat bagi perkembangan
kemampuan menyimak dan berbicara anak, yang akan menjadi dasar dari kemampuan
berkomunikasi, anak selain dilatih berpikir kritis untuk memecahkan masalah,
juga dapat melatih keberanian dan kemampuan berbicara secara bebas dan
menangkap bunyi beserta memahami maknanya secara aktif dalam proses menyimak.
Kesalahan yang sering terjadi adalah terkadang orang tidak memerdulikan
komponen-komponen yang menunjang kecakapan dalam berdiskusi tersebut, ketika
berdiskusi mereka cenderung berdiskusi saja tanpa mengetahui kemampuan apa saja
yang harus dimiliki atau diperhatikan ketika berdiskusi, kemampuan berbicara
dan menyimak tersebutlah yang akan menunjang kemahiran berdiskusi walaupun
menyimak dan berbicara merupakan kegiatan yang sering dilakukan sehari-hari dan
cenderung orang banyak berpikir tidak perlu memelajarinya karena dianggap mampu
menguasai tanpa dipelajari, hal tersebut menjadi suatu kesalahan yang besar, sebenarnya
banyak sekali hal yang harus dipelajari dalam menyimak dan berbicara yang akan
membantu kita mahir dalam berdiskusi.
Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk membahas makalah
yang berjudul “KORELASI MENYIMAK DAN BERBICARA DALAM KONTEKS KEMAHIRAN
BERDISKUSI”.
Di dalam
makalah ini penulis akan memaparkan inti masalahnya, maka untuk lebih jelas dan
terperinci, terlebih dahulu penulis akan merumuskan permasalahan yang terdiri
dari pengertian menyimak, pengertian berbicara, pengertian diskusi, dan di
dalam makalah ini penulis akan memaparkan hubungan antara menyimak dan
berbicara, di dalam hubungan yang memiliki aspek yang saling berkesinambungan
pasti di dalamnya terdapat faktor keberhasilan yang menunjang kegiatan diskusi,
maka dari itu penulis menambahkan faktor keberhasilan menyimak dan berbicara
yang memengaruhi kemahiran berdiskusi, diskusi terdiri dari berbagai macam yang
menunjang para pemakainya sesuai dengan lingkungnan dan kebutuhannya, maka
penulis juga akan membahas jenis-jenis diskusi, di dalam kegiatan diskusi
terdapat keunggulan yang akan menarik para penggunanya untuk berdiskusi, selain
mengetahui keunggulan para pengguna yang melakukan kegiatan ini harus mengetahui apa saja kelemahan dari
diskusi, untuk meminimalisir kelemahan diskusi penulis juga menambahkan hal-hal
yang harus diperhatikan dalam diskusi.
Adapun yang
menjadi tujuan penulis dalam makalah ini untuk mengetahui pengertian menyimak,
untuk mengetahui pengertian berbicara, untuk mengetahui pengertian berdiskusi,
untuk mengetahui hubungan menyimak dengan berbicara, untuk mengetahui faktor
keberhasilan menyimak dan berbicara yang memengaruhi kemahiran berdiskusi,
untuk mengetahui jenis-jenis diskusi, untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan
diskusi, dan untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam diskusi.
Makalah ini
disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara
praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai pengembangan konsep korelasi
menyimak dan berbicara dalam konteks kemahiran berdiskusi. Secara praktis
makalah ini diharapkan bermanfaat bagi penulis sebagai wahana penambah
pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang konsep korelasi menyimak dan
berbicara dalam konteks kemahiran berdiskusi, juga bermanfaat bagi pembaca
sebagai media informasi tentang konsep kolerasi menyimak dan berbicara dalam
konteks kemahiran berdiskusi baik secara teoretis maupun secara prakstis.
Makalah ini
disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguaraikan permasalahan
yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoretis dalam makalah ini
dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil
data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema
makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan
mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema
makalah.
B.
Pengertian Menyimak
Menurut Tarigan (1986:19), bahwa menyimak adalah suatu proses
mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,
apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta
memahami makna komunikasi yang disampaikan
si pembicara melalui bahasa lisan atau ujaran.
Menurut Anderson (1972:68), bahwa menyimak sebagai proses besar
mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan.
Dari dua
pengertian tentang menyimak yang dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa kegiatan menyimak merupakan tindakan atau aktivitas mental dalam
menangkap, memahami, menimbang dan merespon pesan yang terkandung dalam lambing-lambang
bahasa lisan.
C.
Pengertian Berbicara
Menurut Arsjad
dan U.S (1993:23), “Berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat
untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan
perasaan”.
Menurut
Tarigan (2008:3), mengemukakan bahwa berbicara adalah suatu keterampilan
berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada
masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.
Menurut Tarigan
(1990:149), “Berbicara adalah keterampilan menyampaikaan pesan melalui bahasa
lisan”
Dari beberapa
pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah keterampilan
untuk mengucapkan untaian kata sehingga apa yang ada di dalam pikiran dapat
tergambarkan dengan jelas dan diterima oleh para penyimaknya.
D.
Pengertian Diskusi
Jhon Stuart Mill pernah mengatakan bahwa, satu-satunya cara, tempat
dimana manusia dapat mengemukakan beberapa pendekatan, untuk mengetahui
keseluruhan suatu pokok pembicaraan adalah dengan jalan mengetahui keseluruhan
suatu pokok pembicaraan adalah dengan jalan mengetahui segala hal yang
dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda.
Powers, (1951:263).
Diskusi berasal dari bahasa latin yaitu discution atau
discusium yang artinya bertukar pikiran. Akan tetapi belum tentu setiap
kegiatan bertukar pikiran dapat dikatakan berdiskusi. Diskusi pada dasarnya
merupakan suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam
kelompok kecil atau kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapat suatu
pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. (Arsjad
& U.S, 1988:37)
Pada hakikatnya diskusi merupakan suatu metode untuk memecahkan
permasalahan dengan proses berpikir kelompok. Oleh karena itu, diskusi
merupakan suatu kegiatan kerja sama atau aktivitas koordinatif yang mengandung
langkah-langkah dasar tertentu yang harus dipatuhi oleh seluruh kelompok.
E.
Hubungan Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang
langsung, merupakan komunikasi tatap muka atau fece to face communication (Brooks, 1964:134)
Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata
yang akan berpengaruh pada kelangsungan kegiatan diskusi yaitu:
1.
Ujaran
(Speech) biasa dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi) oleh karena itu, model atau contoh yang
disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta
kecakapan berbicara dalam diskusi.
2.
Kata-kata
yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh
perangsang (stimuli) yang ditemuainya (misalnya kehidupan desa, kota) dan
kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian
dalam gagasan-gagasannya.
3.
Ujaran
sang anak mencerminkan pemakain bahasa di rumah dan di dalam masyarakat
tempatnya hidup, hal ini misalnya terlihat nyata dalam ucapan, intonasi, kosa
kata, penggunaan kata-kata, dan pola-pola kalimatnya.
4.
Anak
yang masih kecil lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang
dan rumit tinimbang kalimat-kalimat yang diucapkannya.
5.
Meningkatkan
keterampilan menyimak berarti pula membantu meningkatkan kualitas berbicara
seseorang.
6.
Bunyi
suara merupakan suatu faktor yang penting dalam peningkatan cara pemakaian
kata-kata sang anak, oleh karena itu sang anak akan tertolong kalau dia
mendengar serta menyimak ujaran-ujaran yang baik dan benar dari para guru,
rekaman-rekaman yang bermutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan
lain-lain.
F.
Faktor Keberhasilan Menyimak dan Berbicara yang Memengaruhi Kemahiran
Berdiskusi
Didalam suatu kegiatan menyimak dan berbicara pasti akan terdapat
hal-hal yang akan memengaruhi keberhasilannya, pengaruh ini juga akan memengaruhi dalam kegiatan berdiskusi, penulis paparkan
sebagai berikut:
1.
Faktor
yang memengaruhi keberhasilan menyimak dalam kemahiran berdiskusi:
a.
Aspek
pembicara
Kemampuan dan
sikap pembicara dapat memengaruhi keberhasilan menyimak dalam berdiskusi.
Pembicara yang menguasai materi yang dibahasnya, dan memiliki sikap simpatik
terhadap penyimak, serta menguasai atau memiliki gaya bicara yang menarik,
serta menyampaikan secara beraturan dipastikan dapat menarik dan meyakinkan
bagi penyimak. Kondisi pembicaraan demikian berpotensi dapat mendukung
keberhasilan menyimak. Namun jika sebaliknya, maka kondisi pembicaraan akan
tidak menarik dan tidak meyakinkan bagi penyimak. Hal demikian sangat
memungkinkan terjadinya ketidakberhasilan dalam menyimak.
b.
Aspek
pembicaraan
Pembicaraan yang
meliputi isi dan bentuknya memiliki karakteristik tertentu. Isi atau materi
pembicaraan yang baru, menarik, sistematikanya tersusun runtut, dan tingkat
kesukarannya sesuai dengan kemampuan penyimak, dapat menggugah motivasi
penyimak untuk menyimak dengan sungguh-sungguh.
c.
Aspek
situasi
Hal yang memengaruhi
meliputi tempat, waktu berlangsungnya diskusi dan suasana lingkungan diskusi.
Usahakan mengondisikan tempat yang
menyenangkan, waktu berlangsungnya pada jam yang tepat (saat pendengaran
masih segar), dan suasana lingkungan yang tenang yang dapat mendukung
keberhasilan menyimak dalam kegiatan berdiskusi. Sangat berbeda dengan proses
menyimak pada suasana lingkungan yang gaduh disertai cuaca yang panas dapat
dipastikan akan membuat konsentrasi penyimak kurang terpusat dan perasaan tidak
senang ketika diskusi berlangsung, sehingga hasil simakan diskusi pun tidak
akan sempurna.
d.
Aspek
penyimak
Faktor yang terdapat pada diri penyimak meliputi faktor fisik dan
psikologis. Faktor fisik berhubungan dengan kesehatan fisik penyimak, sedangkan
faktor psikologis berhubungan dengan kesehatan mental, minat, motivasi, dan
kecerdasan penyimak. Kita dapat merasakan sulitnya menyimak ketika kondisi
fisik (jasmani) kita dalam keadaan sakit. Begitupula bagaimana konsentrasi kita
dapat terpusat pada meteri yang disimak manakala mental kita sedang kalut dan
minat kita untuk memahami isi pembicaraan tidak ada, ada prasangka dan kurang
simpati terhadap pembicara dengan alasan tertentu, keegosentrisan dengan
keasikan minat dan masalah pribadi, kebosanan dan kejenuhan. Selain itu,
keberhasilan menyimak ditentukan pula oleh tingkat kecerdasan dan pengalaman
penyimak. Dari hasil penelitian diketahui bahwa anak-anak yang memiliki tingkat
kecerdasan tinggi adalah anak yang mampu menyimak dengan baik, dan dengan
pengalaman yang banyak anak akan serba tahu dengan informasi yang disampaikan
dan akan mengahasilkan keefektifan dalam berpikir sehingga dirinya dapat
memverifikasi materi diskusi sesuai kebutuhan yang belum dia ketahui. Sebagian
faktor peranan dalam masyarakat pun menjadi faktor dari penyimak, yaitu
penyimak yang menyimak sesuai kebutuhan informasi profesinya.
2.
Faktor
yang memengaruhi penunjang kefektifan berbicara dalam kemahiran berdiskusi:
a.
Faktor
kebahasaan:
1)
Ketepatan
ucapan
Seorang
pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat.
Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian
pendengar. Kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, sehingga
terjadi suatu penyimpangan, maka keefektifan komunikasi akan terganggu. Dalam
sehari-hari kita belum mengenal lafal baku, namun sebaiknya ucapan kita jangan
terlalu diwarnai dengan bahasa daerah, sehingga dapat mengalihkan perhatian
pendengar.
Demikian
juga halnya dengan pengucapan tiap suku kata, tidak jarang kita dengar orang
mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya. Ada suku kata yang
diucapkan berdempet, kadang ada yang hilang bunyi-bunyi tertentu. Sebaliknya
ada pula kecenderungan pembicara menambahkan bunyi-bunyi tertentu di belakang
suku kata atau di belakang kata. Hal ini selain membingungkan pendengar, tentu
juga dapat mengalihkan perhatian pendengar, sehingga mengurangi keefektifan
berbicara. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan
menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan,
kurang menarik, atau sedikitnya dapat mengalihkan perhatian pendengar.
Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari
ragam lisan bahasa, sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi,
atau pemakainya (pembicara) yang dianggap aneh.
2)
Penempatan
Tekanan, Nada, sendi, dan Durasi yang sesuai
Kesesuaian
tekanan, nada, sendi, dan durasi
merupakan daya tarik tersendiri
dalam berbicara, bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Walaupun
masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi
dan durasi yang sesuai, akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya
jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan
kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
Demikian
juga halnya dalam pemberian tekanan pada kata atau suku kata. Misalnya kata
penyanggah, pemberani, kesempatan, kita beri tekanan pada pe-, pem-, ke-, tentu
kedengarannya janggal, sehingga pokok pembicaraan atau pesan yang disampaikan
kurang diperhatikan.
3)
Pilihan
kata (Diksi)
Pilihan
kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti
oleh pendengar yang menjadi sasaran. Kata-kata yang belum dikenal memang
membangkitkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi.
Selain itu hendaknya dipilih kata-kata yang konkret sehingga mudah dipahami
pendengar. Kalau si pembicara memaksakan diri memilih kata-kata yang tidak
dipahaminya dengan maksud supaya lebih mengesankan, malah akibatnya sebaliknya.
Demikian juga sebaliknya, karena pembicara ingin turun ke kalangan
pendengarnya, maka ia menggunakan bahasa yang populer atau kata-kata yang tidak
baku. Tetapi akibatnya kedengarannya tidak wajar. Dalam hal ini hendaknya
pembicara menyadari siapa pendengarnya dan apa pokok pembicaraannya, dan
menyesuaikan pilihan katanya dengan pokok pembicaraan dan pendengarnya.
Pendengar
akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicara dengan
jelas dalam bahasa yang dikuasainya, dalam arti yang betul-betul menjadi
miliknya, baik sebagai perorangan maupun sebagai pembicara. Selain itu, pilihan
kata juga disesuaikan dengan pokok pembicaraan. Tentu dalam situasi ini kita
tidak berbicara secara santai mengenai masalah-masalah yang rumit dan serius,
sebaliknya berbicara secara serius mengenai hal-hal yang santai.
4)
Ketepatan
sasaran pembicara
Seorang
pembicara harus mampu menyusun kalimat efekktif, kalimat yang mengenai sasaran,
sehingga mampu menimbulkan pengaruh. Meninggalkan kesan, atau menimbulkan
akibat.
Kalimat
efektif mempunyai ciri-ciri keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan
kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata betul-betul merupakan
bagian yang padu dari sebuah kalimat. Keutuhan kalimat akan rusak karena
ketiadaan subjek atau adanya kerancuan. Perpautan, bertalian dengan hubungan
antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dengan kata, frase dengan
frase dalam sebuah kalimat. Hubungan itu harus jelas dan logis. Selain itu,
kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata, sehingga tidak ada
kata-kata yang tidak berfungsi, maka kata-kata ini dapat disingkirkan.
Sebagai
sarana komunikasi, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan
penerimaan. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan
tergambar lengkap dalam pikiran pendengar persis seperti apa yang dimaksud
pembicara. Seorang pembicara juga harus tahu siapa pendengarnya dan
menyesuaikan gaya kalimatnya dengan pendengar tersebut.
b.
Faktor
nonkebahasaan
Kefektifan berbicara tidak hanya didukung oleh faktor kebahasaan
saja tapi juga ditentukan oleh faktor nonkebahasaan. Bahkan dalam diskusi
formal, faktor nonkebahasaan ini sangat mempengaruhi kefektifitasan dalam
berdiskusi, sebaiknya faktor ini ditanamkan terlebih dahulu sehingga kalau
faktor nonkebahasaan sudah dikuasai akan memudahkan penerapan faktor
kebahasaan. Maka dari itu penulis akan memarpakan faktor nonkebahasaan sebagai
berikut:
1)
Sikap
yang wajar, tenang, dan tidak kaku.
Pembicara
yang tidak tenang, lesu, dan kaku tentulah akan memberikan kesan pertama yang
kurang menarik. Padahal kesan pertama ini sangat penting untuk menjamin adanya
kesinambungan perhatian pihak pendengar. Dari sikap yang wajar saja sebenarnya
pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja
sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi.
2)
Pandangan
harus diarahkan kepada lawan bicara.
Agar
pendengar dan pembicara benar-benar terlibat dalam kegiatan berbicara,
pandangan pembicara sangat membantu. Hal ini sering diabaikan oleh pembicara.
Hendaknya diusahakan agar pendengar merasa terlibat dan diperhatiakan.
3)
Kesediaan
menghargai pendapat orang lain.
Seorang
pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat
pihak lain atau bersedia menerima kritik, bersedia merubah pendapatnya apabila
ternyata salah.
4)
Gerak-gerik
dan mimik yang tepat.
Gerak-gerik
dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara, tetapi
gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara, mungkin
perhatian pendengar akan terarah pada gerak-gerik dan mimik berlebihan ini,
sehingga pesan kurang dipahami.
5)
Kenyaringan
suara
Tingkat
kenyaringan suara ini tentu disesuaikan dengan situasi, tempat, dan jumlah
pendengar. Aturlah kenyaringan suara kita agar dapat didengar oleh semua
pendengar dengan jelas, dengan juga mengingat kemungkinan dari luar.
6)
Kelancaran
Seorang
pembicara yang lancar berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi
pembicaraannya.
7)
Relevansi
atau penalaran.
Gagasan
demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Hal ini berarti hubungan
bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan
berhubungan dengan pokok pembicaraan.
8)
Penguasaan
topik.
Pembicaraan formal selalu menuntut
persiapan. Tujuannya agar topik yang dipilih benar-benar dikuasai. Penguasaan
topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi penguasaan
topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara.
G.
Jenis-jenis Berdiskusi
Jenis-jenis dari diskusi beberapa diantaranya sebagai berikut:
1.
Diskusi
panel
Diskusi panel
adalah suatu kelompok yang terdiri dari tiga sampai enam orang ahli yang
ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya dari berbagai segi mengenai suatu
masalah untuk kepentingan pendengar. Panel dipimpin oleh seorang moderator.
Masalah yang didiskusikan dapat memberikan pelbagai penerangan atau perluasan
pengetahuan kepada pendengar tentang masalah yang sedang hangat dalam
masyarakat.
Para panelis
tidak selalu satu pendapat, bahkan perbedaan pendapat lebih merangsang para
pendengar. Dengan mendengarkan beberapa pendapat para ahli, pendengar akan
dibimbing ke arah berpikir secara kritis dan melatih kemampuan menganalisis
masalah. Berhasil atau tidaknya panel sangat tergantung kepada kelincahan
moderator.
Tidak selalu para panelis satu pendapat, bahkan perbedaan pendapat
panelis lebih merangsang para pendengar. Dengan mendengarkan beberapa pendapat
para ahli, pendengar akan dibimbing ke arah berpikir secara kritis dan melatih
kemampuan menganalisis masalah. Berhasil atau tidaknya panel sangat bergantung
pada kelincahan moderator.
2.
Simposium
Simposium hampir sama dengan panel, hanya
lebih bersifat formal. Pemrasan harus menyampaikan makalah mengenai suatu
masalah yang disorot dari sudut keahlian
masing-masing. Peranan moderator tidak seaktif dalam diskusi panel, tapi
sebaliknya para pendengar atau pesertalah yang lebih aktif berpartisipasi.
Masalah yang dibahas dalam simposium mempunyai ruang lingkup yang laus,
sehingga perlu ditinjau dari berbagai sudut atau aspek ilmu untuk mendapatkan
perbandingan. Pada simposium diadakan sanggahan umum terhadap suatu prasaran
dan sanggahan itu disusun secara tertulis. Para peserta dapat mengemukakan
pendapat secara langsung kepada pemrasan melalui moderator. Dalam simposium
tidak diambil suatu keputusan, tetapi hanya mendapat perbandingan tentang suatu
masalah.
3.
Seminar
Seminar merupakan suatu pertemuan untuk
membahas suatu masalah tertentu dengan prasaran dan tanggapan melalui suatu
diskusi untuk mendapatkan suatu keputusan bersama mengenai tersebut. Berbeda
dengan simposium, masalah yang dibahas dalam seminar mempunyai ruang lingkup
yang terbatas dan tertentu. Tujuannya adalah untuk mendapatkan jalan keluar
dari suatu masalah. Oleh sebab itu, peserta seminar terdiri dari orang-orang
yang berkecimpung dalam masalah tersebut, sehingga dapat memberikan pandangan
dan pendapat dalam pemecahan masalah tersebut. Seminar merupakan pembahasan
secara ilmiah, walaupun yang menjadi topik pembicaraan hal-hal yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya adalah untuk memecahkan suatu
masalah. Oleh sebab itu seminar harus diakhiri dengan kesimpulan atau
keputusan-keputusan baik berbentuk usul, saran resolusi, atau rekomendasi.
Secara garis besarnya,
seminar dilaksanakan dimulai dengan mendengarkan pandangan umum tentang suatu
masalah, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok (sidang komisi),
kelompok-kelompok bersidang kembali untuk mensahkan kesimpulan komisi (sidang
pleno), hasil rumusan dalam bentuk usul, saran, resolusi, dan sebagainya yang
dianggap perlu.
4.
Lokakarya
Masalah lainnya dari lokakarya atau
sebutan lainnya adalah workshop mempunyai ruang lingkup tertentu dan
dibahas secara mendalam. Pesertanya adalah orang-orang yang ahli dalam bidang
tersebut. Dalam lokakarya masalah dibahas melalui prasaran dan tanggapan, serta
diskusi secara mendalam. Kalau perlu diikuti dengan demonstrasi atau peragaan.
Biasanya lokakarya ini diikuti oleh sekelompok orang yang bergerak dalam
lingkungan kerja yang sejenis atau seprofesi. Lokakarya biasanya adakan apabila
ingin mengevaluasi suatu proyek yang sudah dilaksanakan, ingin mengadakan
pembaharuan sesuai kebutuhan dan tuntuan masyarakat, untuk bertukar pengalaman
dengan tujuan lebih meningkatkan kemampuan kerja.
5.
Kelompok
Studi
Kelompok studi ini mungkin
merupakan suatu hasil pertumbuhan dari suatu keinginan untuk memperoleh
informasi. Di dalam kelas misalnya, suatu kelompok studi dapat membicarakan permasalahan.
Istilah study group juga
disebut lecture discussion (diskusi kuliah) yang merupakan bentuk
diskusi yang paling sering terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi. Ini
merupakan yang paling cocok dan serasi bagi situasi-situasi dimana para
pendengar menginginkan pengetahuan mengenai suatu pokok tertentu.
H.
Keunggulan dan Kelemahan Diskusi
1.
Keunggulan
Diskusi
Berdiskusi dapat memberikan pengetahuan
mengenai sumber yang lebih banyak bagi pemecahan masalah. Diskusi juga berguna
jika terdapat dua pandangan yang bertentangan dan harus diajukan sifat memilih
salah satu dari pandangan yang segera akan dilaksanakan. Pengenalan pandangan
baru tersebut akan membantu menerobos jalan buntu. Melalui diskusi pandangan atau
ide dapat diuji secara subjektif dan
tidak memihak dan tidak mengutamakan kepentingan sendiri. Diskusi sangat
diperlukan bagi pemerintah demokrasi, dalam Negara demokrasi warga Negara
mempunyai kebebasan untuk mendiskusikan, membedakan, membandingkan pendapat,
menggunakan hak bebas berbicara serta menyatukan hasil pemikiran mereka.
Disinilah letak harapan bagi masa depan cara hidup demokratis.
Sebagai pelajar kita dituntut untuk bisa
berbicara, di dalam diskusi kemampuan
berbicara kita akan dilatih, mengingat
jumlah peserta dalam diskusi cukup banyak, maka sangat tepat untuk melibatkan
setiap individu dalam diskusi, jika suasana diskusi dipakai dalam kegiatan
belajar diskusi dapat mengefektifkan berbicara karena berbicara dalam diskusi
jauh lebih ringan dibandingkan secara individual, waktu berbicara akan jauh
lebih singkat dan perhatian pendengar tidak tertuju kepada satu individu saja,
tetapi terbagi kepada semua anggota. Anggota yang pasif pun akan terasang oleh
moderator sehingga tidak terjadi kekosongan,
dan diskusi pun dapat menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan dari
situasi belajar yang terus menerus sama dalam mata pelajaran yang lain, maka
dari itu diskusi akan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Diskusi akan memancing kreativitas dan meningkatkan
taraf berpikir penggunanya, mereka dapat menganalisis dan mengakplikasikan
materi yang sedang diajarkan, dengan diskusi seseorang dapat memiliki banyak
pengalaman yang lebih luas dan beragam, karena pengetahuan yang didapat dalam
diskusi belum tentu didapat dari membaca atau mendengarkan pendidik. Melalui
diskusi kita dapat belajar cara orang
lain memecahkan masalah.
Diskusi juga akan melatih siswa berpikir
secara logis karena di dalam diskusi terdapat
adu argumentasi, argumen yang dikemukakan akan mendapat penilaian dari anggota
yang lain, sehingga hal ini dapat meningkatkan kamampuan berpikir dalam
memecahkan suatu masalah, umpan balik dapat diterima secara langsung, sehingga
hal ini dapat memperbaiki cara berbicara si pembicara, baik yang menyangkut
faktor kebahasaan maupun nonkebahasaan, para peserta diskusi turut
berkontribusi, mempertimbangkan gagasan yang berbeda-beda dan turut memasukan
persetujuan bersama tanpa emosi untuk menang sendiri.
2.
Kelemahan
Diskusi
Didalam kegiatan
berdiskusi sering dijumpai kegagalan memahami, termasuk salah paham terhadap
makna-makna setiap kata orang lain. Ada
juga perselisihan pendapat yang meruncing tanpa adanya keinginan untuk
berkompromi, kebingunan menghadapi suatu perbedaan pendapat dapat menjadi suatu
serangan terhadap suatu pendapat pribadi seseorang akibatnya, timbul hilangnya
kesabaran dalam kemarahan yang tidak tanggung-tanggung. Ada juga yang
mempergunakan waktu untuk membantah sebagai pengganti mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, dan ada juga yang mempergunakan kata-kata yang bernoda
yang menumpulkan pikiran.
Jalannya
diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh peserta atau siswa yang menonjol saja.
Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi, akan tetapi hanya hal-hal yang
bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan, diskusi yang mendalam
memerlukan waktu yang banyak dan akibatnya akan dikejar-kejar waktu dan perasaan
dibatasi waktu tersebut akan menimbulkan terkadang dalam diskusi sehingga
hasilnya tidak maksimal, apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani
mengemukakan pikiran mereka maka biasanya sulit untuk membatasi pokok
masalahnya. Sering terjadi juga peserta atau siswa yang kurang berani
mengemukakan pendapatnya, dan jumlah di dalam kelas terlalu besar akan
mempengeruhi setiap siswa untuk mengemukakan pendapatnya.
I.
Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Diskusi
Suksesnya sebuah diskusi sangat tergantung
kepada kepemimpinan moderator atau pimpinan diskusi. Pimpinan diskusi bukanlah
seperti pemimpin biasa lazimnya, tetapi ia bertindak sebagai orang penuntun
atau pengendali kelompoknya. Tugas-tugas yang harus dilakukan moderator yaitu
menjelaskan tujuan dan maksud tertentu dalam diskusi hal ini penting untuk
mengarahkan anggota, menjamin kelangsungan diskusi secara secara teratur dan
tertib, memberikan stimula anjuran, ajakan, agar setiap peserta betul-betul
mengambil bagian dalam diskusi tersebut, menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan
dan kemudian membuat kesimpulan atas persetujuan dan kesepakatan bersama,
menyiapkan laporan. Pemimpin diskusi dituntut untuk menguasai dan memiliki
pengetahuan yang luas tentang topik diskusi, berwibawa dan tidak memihak, harus
memberikan pengerahan, berpegang teguh pada metode dan teknik diskusi, dapat
merangsang dan mendorong anggotanya, tidak mengeritik dan mencemooh, dapat memeringatkan
anggotanya supaya tidak keluar dari topik pembahasan, membatasi anggota yang
terlalu banyak bicara dan memberi sugesti kepada anggota yang tidak mau
berbicara.
Selain ketua notulis bertugas mencatat jalannya
diskusi dan membantu ketua menyimpulkan hasil diskusi.
Dinamika dan aktivitas diskusi juga sangat
ditentukan oleh peserta diskusi. Oleh karena itu, peranan dan tugas serta sikap
peserta diskusi sangat menentukan. Untuk menjadi peserta yang baik maka harus memperhatikan
beberapa hal yaitu menguasai masalah yang dikuasainya, menyimak setiap
pembicara dengan penuh perhatian, menunjukan solidaritas dan partisipasi yang
tinggi, sikap emosional dan berprasangka harus dihindari, dapat menangkap dan
mencatat gagasan utama dan gagasan
penunjang si pembicara, membuat beberapa usul dan sugesti, dan meminta pendapat
dan informasi sebanyak mungkin, mengajukan keberatan terhadap pendapat orang lain dengan mengemukakan argumentasi
yang lebih meyakinkan. Hal ini tidak berarti menentang pendapat oranglain, ikut
membantu menyimpulkan hasil diskusi.
J.
Simpulan dan Saran
Menyimak merupakan tindakan atau aktivitas mental dalam menangkap,
memahami, menimbang dan merespon pesan yang terkandung dalam simbol-simbol
bahasa lisan. Berbicara adalah keterampilan untuk mengucapkan untaian kata
sehingga apa yang ada di dalam pikiran dapat tergambarkan dengan jelas dan
diterima oleh para penyimaknya. Diskusi merupakan suatu bentuk tukar pikiran
yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil atau kelompok besar, dengan
tujuan untuk mendapat suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama
mengenai suatu masalah.
Dengan adanya diskusi bisa menjadi tempat untuk berbagi ide, pendapat
dan pemecahan suatu masalah dengan suatu
keputusan sebagai jalan keluar, sehingga para anggota bisa
berkembang secara optimal. Diskusi
bukan hanya bermanfaat bagi para anggota dalam kegiatan formal saja, melainkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan menyimak yang akan
membantu kegiatan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Jenis-jenis diskusi ada bermacam-macam tergantung dari aspek mana kita melihatnya. Di dalam
diskusi terdapat banyak keunggulan dan kelemahannya, maka dari itu harus ada hal-hal yang diperhatikan dalam diskusi
untuk meminimalisir kelemahan yang ada, yaitu dengan memerhatikan pentingnya
peranan moderator, notulis dan peserta yang memenuhi syarat.
Untuk
menunjang keaktifan dalam kemahiran
diskusi dengan baik, Kiranya dalam pelaksanaan diskusi semua anggota dapat mengaplikasikan
kegiatan menyimak dan berbicara sesuai dengan tuntunan dalam makalah, tentunya
semua itu tidak luput dari peranan individu masing-masing yang melaksanakannya,
maka dari itu anggota harus dapat pintar-pintar menyesuaikan diri dengan
situasi dan kondisi yang nantinya akan memengaruhi kegiatan menyimak, berbicara
dan diskusi.
DAFTAR
PUSTAKA
Arsjad, Maidar
G. Mukti U.S. (1988). Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Bunda, Ria.
(2014). Pengertian Berbicara Menurut Para Ahli. [Online].
Heryadi, Dedi.
(2014). Kemahiran Menyimak. Tasikmalaya: Program PPS Unsil Press.
Parera, Jos D.
(1991). Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.
Riadi,
Muchlisin. (2013). Metode Diskusi dalam Belajar. [Online].
Tersedia:http://www.kajianpustaka.com/2013/01/metode-diskusi-dalam-belajar.html.[10 November 2015]. [07:20].
Tarigan, Djago.
Dkk. (2006). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Tarigan, Henry
G. (2008). Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
Tarigan, Henry
G. (1990). Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.